Sunday, 26 January 2014

Aldila Dipamela || sukses berkat kreasi rajut

                                                                   Aldila Dipamela
KETERTARI­KANNYA ke dunia wira usaha sejak duduk di­bangku sekolah mengantarkan Aldila Dipamela (20) menjadi finalis Wirausaha Muda Mandiri Nasional.
Mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Universitas Siliwangi Tasikmalaya, terpilih menjadi Wirausaha muda tingkat Jawa Barat kategori Industri Mahasiswa. Dila panggilan akrab mahasiswi angkatan 2010 itu menyisihkan wirausahawan muda lainya dari berbagai daerah di Jabar.
Rentang antara tanggal 11 sampai 21 Januari 2013 mendatang menjadi waktu yang sangat menentukan bagi warga Letkol Komor Kartaman, Kecamatan Tawang Kota Tasik­malaya itu menjadi pengusaha muda terbaik tingkat nasional.
“Mudah-mudahan saja bisa menjadi yang terbaik, tapi saingannya kan banyak,” kata Dila kepada Kabar Priangan Rabu (26/12).
Produk unggulan yang dibawa Dila dalam persentasi Wirausaha Muda Mandiri Jawa barat berupa kelom geulis rajut buatanya. Hasilnya cukup memuakau para dewan juri dan menempatkan dila sebagai wirausaha muda mandiri Jawa Barat.
Awal ketertarikan dila ke dunia usaha bermula saat duduk di bangku SMA tahun 2008 lalu. Ide kreatif muncul saat melirik kalung-kalung unik yang sering dikenakan para siswa. Ia pun mencoba membuat kalung dan ternyata diminati oleh siswa lainya.
Bermodalkan menyisihkan uang jajan dari orang tua dila terus menggeluti usaha tersebut dan bisa terkumpul modal hingga Rp 500.000. Apa yang dilakukan Dila sedikitpun tidak diketahui oleh orang tuanya.
Ide kreatif gadis muda itu terus berputar dan tidak berhenti hanya pada kalung tetapi mencoba menggeluti kerajinan rajut. Hasilnya lumayan peminat rajutan karya Dila pun bermunculan.
Lantas kereasi rajut tersebut diterapkan diberbagai kerajinan khas tasik baik itu mukena, tas mendong dan akhirnya pilihanya jatuh ke kelom geulis rajut.
Tahun 2012, industri yang dimulai dari iseng tersebut mendapat respon cukup bagus dari masyarakat baik lokal maupun Nasional. Produk Dila yang diberi merek “Ryla” langsung membumi dan banyak diminati masyarakat. Pasar Bali, Jakarta dan juga Pontianak menjadi sasaran hasil karyanya.
“Alhamdullilah banyak yang suka, sekaranag ini dalam sehari keluar antara 1 sampai 2 kodi untuk kelom geulis rajut,” katanya.
Perputaran uang di kelom geulis rajut cukup tinggi yang akhirnya Dila memutuskan untuk fokus dalam industri alas kaki. Pasar menengah atas menjadi incaran Dila dalam membidik konsumen Harga jual sepasang kelom geulis rajut dipatok Rp 125.000, sebuah harga yang lumayan jika dibanding dengan harga kelom geulis biasa.
Menggandeng pengrajin kelom geulis di wilayah Tamansari menjadi satu keharusan yang dilakukannya saat ini. Namun kualitas bahan tetap diutamakan.
Dalam rentang waktu hanya beberapa tahun saja, omset Dila langsung melesat. Saat ini omsetnya sudah menembus angka 70 juta perbulan.
“Saya belum berani menggunakan uang tersebut untuk keperluan lain kecuali untuk modal.Jadi semuanya ditambahkan untuk memperbesar modal,” katanya.
Kerja keras, ulet serta ketekunan dalam menggeluti usaha menjadi modal besar yang dimiliki pemilik Ryla Shop yang dijual lewat media online melalui www. Rylashop.com. Dukungan moril kedua orang tua juga menjadi modal tambahan dan menambah energi untuk terus berkarya.
Ikut pelatihan setiap hari Jumat di Korwil Mandiri Jalan Sukarno Hatta Bandung menjadi aktifitas rutin dalam mempersiapkan diri membawa Jabar di tingkat Nasional.
Bolak balik Tasik Bandung menjadi kegiatan rutin selain kuliah di Unsil. “Meskipun sibuk dibidang wirausaha, kuliah tetap diuatamakan, saat ada pelatihan di Bandung, jadwal kuliah ngikut ke jam lain,” katanya. E-20***

Farah Farce (17 tahun) || sukses diusia muda

      Farah Farce (17 tahun)
Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf
Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf

Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf
Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf
Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf
Profil Pemuda Sukses
=>Farah Farce (17 tahun)
Farah Farce adalah seorang wanita berusia
17
tahun yang sedang kuliah di luar negeri.
Usahanya melejit setelah mendapatkan
mentoring langsung dari Jaya Setiabudi,
penulis
buku The Power Of Kepepet yang sangat
terkenal itu.
Farah adalah owner dari Farceee Online Shop
yaitu online shop yang menjual barang
barang
original dari luar negeri, bahkan ia juga
sudah
memproduksi produk nya sendiri.
Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah
berhasil menembus omset puluhan juta dan
diliput oleh banyak media.
Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil
masuk
ke Majalah majalah dan mengisi seminar
seminar di banyak tempat.
Semoga menjadi sumber inspirasi kita. Aamiin

Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

Twitter Farah : @farceee (Sekarang udah ga gitu update tentang bisnis gan, soalnya doi kuliah di luar negeri sih) - See more at: http://unikmanca.blogspot.com/2013/01/profil-5-pengusaha-muda-indonesia-yang.html#sthash.8R6e8AXf.dpuf

Lambertus Darian (18 tahun) || sukses diusia muda

                                                                   lambertus darian
Anak muda yang satu ini usianya juga masih dibawah 20 tahun, namun telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

• Pendiri Komunitas Bisnis Anak Muda. Komunitas ini memiliki puluhan ribu followers di Twitter.
• Ketua Komunitas Bisnis Anak Muda
• Sudah dapat memiliki omset penjualan 95 Juta dalam waktu 1 bulan di umur 16 Tahun
• Berhasil menjadi Top New Sales 2010 di salah satu perusahaan importir di umur 16 Tahun
• Pemegang 25% saham PT. Trijaya Mekar Mandiri
• Distributor Jahe Merah Instant Cap Cangkir Mas
• Distributor Stick Jelly Food
• Owner produk cairan pembersih kamar mandi

Walaupun sempat ditipu sebelum membuka restorannya, berkat tekat yang kuat dan semangat ingin sukses sekarang Darian menjadi Owner dari Sop Iga Bakar Sarap yang berada di Muara Karang, selain menjalani bisnis nya sekarang ia pun sering diundang dalam berbagai talkshow bisnis.

Tema talkshow yang biasa dibawakan oleh Lambertus adalah tentang penting ga yang namanya komunitas itu. Karena dia adalah pendiri komunitas Bisnis Anak Muda.

Hamzah Izzulhaq (19 tahun) || sukses diusia muda

                                                          Hamzah Izzulhaq (19 tahun)

Apa yang sudah kamu lakukan di umur 18 tahun mu? Kebanyakan dari kita mungkin masih asik sekolah, hangout bareng teman-teman, pacaran. Tapi lain dengan Hamzah Izzulhaq, dia punya kesibukan lain: Mengurus bisnis-bisnisnya yang bernilai ratusan juta. Ya pemuda pemenang Ciputra Young Entrepreneur ini memang memiliki kehidupan agak lain dari kebanyakan orang Indonesia kebanyakan.
Hamzah tidak ingat kapan mulai bertama berdagang. Yang jelas, petualangan bisnis ratusan juta dia dimulai dari berjualan buku sekolah dan pulsa sejak masa awal SMA-nya. Bisnis yang cukup lazim dilakukan anak sekolah sebenarnya. Walaupun begitu, keuletan Hamzah membuat dia mendapatkan keuntungan bersih Rp 950.000 per semester.Sukses dan memegang cukup banyak uang, Hamzah mencoba untuk ekspansi ke bisnis lain.
Namun, bukan pebisnis namanya kalau tidak pernah merasakan kegagalan dan belajar darinya. Pendapatan Hamzah dari penjualan buku dan pulsa yang selama ini dia tabung, digunakan untuk membuka konter pulsa. Hamzah lalu mencoba untuk naik level, bisnis-bisnis yang sebelumnya dia eksekusi sendiri seluruhnya kini mulai didelegasikan. Sebagaimana percobaan pertama yang biasanya gagal. Konter pulsa tersebut bangkrut karena penjaga konter yang ternyata nakal. Di sisi lain manajemen keuangan yang kurang ketat.
Kegagalan kadang memang datang beruntun. Butuh mental baja agar seorang pengusaha bisa terus bangkit. Kali ini bisnis rintisan yang gagal adalah bisnis percetakan pin. Melihat peluang di acara dan organisasi SMA waktu itu, Hamzah memberanikan diri untuk  membeli mesin pin dan mengoperasikannya sendirian. Berpengalaman menjualkan sesuatu, orderan pin memang banyak datang, tapi ternyata mengoperasikan mesin pin butuh keahlian tersendiri. Pin yang dicetak banyak yang gagal, dan mesinnya malah rusak. Hamzah sadar bahwa beberapa hal memang harus diserahkan pada ahlinya.
Petualangan bisnisnya tidak berhenti di sini. Mengikuti kompetisi bisnis, Hamzah membuka sebuah gerai ayam goreng. Semua segala aspek dari bisnis tersebut sudah dipastikan berjalan dengan baik. Hal yang akhirnya membuat gerai tersebut bangkrut adalah kurang sabar dalam menilai ramainya suatu daerah. Hamzah juga belajar bahwa pemilik usaha harus terjun ke lapangan membesarkan bisnis rintisan mereka. Khususnya jika membangun brand baru.
Berbekal pengalaman-pengalaman yang didapat, Hamzah merasa makin matang untuk terus menyelam di dunia bisnis. Seseorang rekan menawarkan franchise bimbel. Sebuah hal yang unik, karena teman sekelas Hamzah saat itu justru masuk bimbel mempersiapkan tes masuk PTN. Hamzah sendiri justru takjub dengan rekannya tersebut. Beliau saat itu sudah memiliki 44 cabang bimbel, dan baru berumur 23 tahun. Hamzah ingin membeli sebuah cabang yang kebetulan dijual. Saat itu, modal dari bisnis jualan snack di SMA-nya hanya 5 juta. Sedangkan harga cabang tersebut 175 juta. Bukan pengusaha sukses kalau menyerah mencari jalan keluar. Hamzah berhasil melobi ayahnya untuk meminjamkan uang 70 juta, dan pemilik cabang bimbel tersebut untuk membayar sisa 100 juta di belakang dengan sistem cicil.
Di bisnis bimbel ini peruntungan Hamzah tiba. Seiring dengan lulusnya Hamzah dari SMA, Hamzah sudah memegang 3 lisensi franchise, jumlah siswa yang diatas 200 orang, omzet 360 juta per semester, dengan untung bersih 180 juta per semester. Merasa bisnis bimbelnya sudah mulai stabil dan bisa didelegasikan. Hamzah melirik bisnis sofabed. Sebuah perusahaan sofabed yang sudah jalan tiga bulan dia beli dan dia kembangkan. Perkembangannya yang cukup pesat membuat Hamzah bisa mengantongi omzet 160 juta perbulan.
Demikian sedikit rangkuman dari cerita perjalanan bisnis Hamzah. Banyak pelajaran yang bisa diambil langsung dari menyimak cerita di atas. Namun Hamzah sendiri mengatakan ada 4 hal penting yang mempercepat jalan bisnisnya sebagai pengusaha pemula.
1) Bergabung di komunitas pengusaha.
Bagi Hamzah, siapa kita bisa dilihat dari tempat kita berada. Komunitas juga bisa jadi tempat mencari mentor dan peluang-peluang bisnis. Salah satu faktor kesuksesan Sandiaga Uno mungkin adalah karena dekat dengan anak pemilik Astra. Chairul Tanjung dekat dengan Salim group. Tawaran franchise bimbel juga bisa datang karena Hamzah dan rekannya bergabung rajin mengikuti pertemuan Community of Motivator and Entrepreneur.
2) Hindari membangun brand dan sistem dari nol.
Banyak kegagalan pebisnis muda adalah karena terlalu berani memulai mengembangkan brand baru, sistem baru. Hal ini sebenarnya hal yang amat sulit dan membutuhkan jam terbang tinggi. Gerai ayam goreng dan beberapa bisnis Hamzah sebelum franchise bimbel juga gagal dikarenakan hal ini. Franchise bimbel dan sofabed, dua sumber uang Hamzah sekarang ini adalah bisnis yang tidak dimulai dari nol. Pengusaha pemula memang tidak perlu selalu membeli brand matang lewat franchise atau akuisisi, tapi setidaknya mulailah bisnis yang sistemnya sudah terbukti bekerja.
3) Sedikit teori, langsung aksi.
Nasihat ini agak lain dengan nasihat di atas yang cenderung ke arah hati-hati. Bagi Hamzah, salah satu keunggulan dia dibanding orang lain saat memulai jadi pengusaha adalah kemampuan untuk langsung beraksi. Dengan cepat beraksi, kita cepat mempelajari pola, dan menguasai bidang tersebut. Banyak hal hanya bisa dipelajari dengan langsung dilakukan. Dan memang harus selalu siap dengan resiko kegagalan.
Bukannya teori-teori itu buruk. Hamzah sendiri tidak punya sedikitpun keturunan pengusaha. Dorongan-dorongan bisnis didapatnya dari buku-buku dan seminar-seminar yang dia ikuti. Namun saat yang lain biasanya semangatnya berhenti usai seminar bubar, Hamzah nekat langsung terjun ke lapangan. Tidak harus langsung yang besar, cukup lakukan yang bisa dijangkau saat itu. Sebagaimana bisnis pulsa yang dimulai Hamzah sejak kelas satu SMA. Kebiasaan ini tetap dijaga Hamzah sampai saat ini. Selesai baca buku properti, Hamzah langsung mencoba mencari dan menawar properti. Meskipun akhirnya ditipu. Selesai baca buku tentang investasi emas, Hamzah langsung ke Antam membeli emas.
4) Perbaiki hubungan dengan Tuhan dan orang tua.
Hal ini mungkin personal, tapi Hamzah sendiri telah membuktikan bahwa dengan menjaga hubungan dengan Tuhan dan orang tua tetap dekat, menjalankan bisnis jadi lebih tentram. Jika Hamzah bukan anak yang berbakti, tentu tidak bisa Hamzah meminjam dana 70 juta ayahnya yang sebelumnya untuk membeli mobil

aria surya dwijaya || pengusaha tas cantik nan murah asal cilacap


tidak banyak orang yang mengenal sosok ini ?
okeee.. kali ini kita akan menceritakan cerita pengusaha muda tersebut ,.. penasaran ???
pria muda tersebut bernama : Aria surya dwijaya
             tempat tanggal lahir ; cilacap 20 juli 1993
adalah mahasiswa teknik sipil universitas siliwangi tasikmalaya ,. pria yang akrab disapa aa/mas ini menemukan kesuksesannya dikota orang (tasikmalaya.red) setelah iya memutuskan untuk meneruskan study ke perguruan tinggi terkenal dikota tsb.
awalnya iya ingin menghadiahi ibunya berupa tas cantik nan murah , tetapi kualitas barangnya tidak kalah dari tas-tas terkenal yang ada di indonesia , nahhh dari situlah muncul ide kenapa tidak sekalian beli yang banyak? siapa tau banyak yg berminat membelinya .
dari idenya tersebut banyak teman / kerabatnya yg tidak setuju dengan keputusannya , bagaimana tidak..!!! tas yg iya tawarkan adalah tas wanita , sedangkan iya adalah seorang pria..sangat bertolak belakang dengan keinginannya tersebut, tetapi berkat tekad dan kegigihanya iya tetap membeli dari para pembuatnya langsung.
dengan bermodalkan uang sebesar 600 ribu rupiah iya bertekad untuk menjual barang pembeliannya tersebut kepada ibu-ibu dan teman-teman wanita sebayanya di kampung halamannya...alhasil barang yg iya jual habis terjual..malah banyak pesanan dari tetangga dan orang2 yang mengenalnya ...dari situlah timbul percaya diri bahwa usahanya akan berjalan dengan baik kedepannya ..lalu iya mempromosikan tas tersebut kepada rekan-rekannya yg sama2 melanjutkan study dikota-kota besar seperti jakarta,bandung,purwokerto,yogyakarta dan solo.
kini hanya dengan modal dibawah 1jt iya menjadikan posisinya tidak bisa dipandang sebelah mata!!
bagaimana tidak omset usahanya untuk satu hari mencapai 350 rb rupiah jika sedang sepi 150 itu juga jarang terjadi...kini iya ingin mencoba mengenalkan sendal teplek yg terbuat dari kayu asal tasikmalaya di indonesia.
ketika crew kami ingin mewawancarainya dan bertanya2 lebih dalam tentang pemuda tersebut, iya hanya melempar senyum
tak lama kami bertanya karena penasaran
''mas kok ngga malu sih jualan tas wanita? lalu iya menjawab "yaaaaaa kenapa harus malu kalo pengin sukses , jaman sekarang kalo gengsi ngga bakalan maju ,..sembari melemparkan senyum manis yg sudah jadi chiri khasnya ,.
dan iya berpesan kepada crew pemuda pengusaha indonesia : untuk mempromosikan twitternya siapa tau pembaca ada yg mau memesan tas murah nan cantik  lewat twitter atau pin bbmnya
''oke kami promosikan ya mas''.
                                                  twitter @aria_surya58 ,, pin 3076D376


Pedagang tahu beromzet jutaaan

RODA kehidupan memang berputar. Kesabaran, ketekunan, kerja keras,dan pantang menyerah menjadi modal utama seorang pedagang tahu keliling yang kini menjadi bos pabrik yang memproduksi bahan makanan beromzet jutaan rupiah.

Adalah Acim Artasin (45) yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, tepatnya di daerah Kebayoran Lama, sekira 1971 silam. Ketika itu, dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kedatangannya di Jakarta langsung membawanya mengenal acara berdagang di pasar tradisional. Akhirnya, sembilan tahun kemudian, Acim mulai menggeluti proses jual beli bahan makanan. Berdagang tahu menjadi pilihan pekerjaan baginya. Bisnis keluarga menjadi salah satu latar belakang Acim untuk ikut serta memasarkan tahu dengan sasaran rumah tangga. Mulailah Acim berdagang tahu keliling yang kala itu keuntungan yang didapatnya tidak lebih dari seratusan ribu rupiah per hari.

Meskipun setiap harinya Acim harus berjalan menyusuri jalan di bawah terik matahari, dia melakukannya untuk kehidupan yang diyakini akan lebih baik. ”Sambil berjualan keliling kompleks perumahan, saya juga mulai mengumpulkan modal untuk usaha,” ujar Acim saat ditemui harian Seputar Indonesia (SINDO) di pabrik tahu miliknya di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Kesabaran, ketekunan, dan kerja keras tanpa mengeluh ternyata membuahkan hasil. Setelah lebih kurang 19 tahun berjualan tahu keliling, modal yang dikumpulkan Acim pun mulai menumpuk. Tidak banyak memang,namun bisa membuat pekerjaannya sedikit lebih ringan. Minimal, dengan modal yang dia punya, bisa membuatnya berjualan tahu di pasar tradisional tanpa harus keliling.

Tahun 2000 mulailah Acim memasarkan tahunya di pasar tradisional. Meskipun sudah berjualan di pasar, Acim tidak berhenti mengumpulkan dana untuk memajukan usahanya. Tiga tahun lamanya di berjualan di pasar, peluang membesarkan usahanya nampak di depan mata. ”Awal 2003, ada pengusaha pabrik tahu yang bangkrut dan menawarkan saya untuk membeli pabrik dan alat-alat produksinya. Kesempatan itu langsung saya ambil,” ucapnya mengenang. Sebuah pabrik pengolahan tahu yang berdiri di atas tanah seluas 100 meter persegi menjadi titik balik perjalanan usaha Acim yang lebih besar. Untuk memulai menjadi seorang bos industri pengolahan bahan makanan, Acim tentu harus merogoh kantong lebih dalam.

Untuk membeli bangunan pabrik pengolahan, dibutuhkan dana yang tidak sedikit, yakni berkisar Rp9 juta. Sementara untuk membeli perabotan dan beberapa alat produksi pengolahan tahu seperti mesin uap,tungku air,dan lainnya, Acim membutuhkan dana minimal Rp7 juta. Tentu saja dana tersebut lumayan besar di mata Acim. Namun, tekadnya sudah sebesar gunung untuk mengambil kesempatan ini dan bisa memulai bisnis dengan keuntungan yang cukup menjanjikan di kemudian hari. Dua tahun kemudian, Acim memutuskan menjalankan bisnis ini. Awal tahun 2005, Acim memberanikan diri meminjam modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp35 juta yang untuk membeli lahan pabrik dan bangunannya beserta peralatan pengolahan tahu.

”Harga tanah sendiri sudah sangat mahal sekitar Rp50 juta, tapi bisa dicicil.Jadi pinjaman dari bank bisa untuk memulai usaha sambil menabung untuk melunasi utang tanah dan utang ke bank,” jelasnya. Sadar tidak mampu menjalankan industri pengolahan makanan seorang diri, Acim merekrut tujuh tenaga kerja yang sudah terampil dalam menjalankan mesin pengolahan maupun yang masih baru. Bahkan,dia pernah mempekerjakan 20 orang sekaligus. Namun, jumlah tersebut tidak bertahan lama.Kini,di pabrik kecil miliknya itu, dia mempekerjakan sedikitnya sembilan tenaga kerja.

Acim menceritakan, pada awalnya, industri pengolahan tahu miliknya hanya mampu memproduksi sedikitnya 1 kuintal tahu per hari yang kemudian didistribusikan ke pasar tradisional di daerah Ciputat dan sekitarnya. Menurutnya, tidak banyak keuntungan atau omzet yang diperolehnya pada masa awal menjalankan bisnis ini. ”Paling besar keuntungan per hari hanya Rp300.000. Itu pun sudah dikurangi dengan belanja bahan dasar pembuat tahu dan upah pekerja di sini,” paparnya. Optimisme terpancar dalam diri Acim. Meskipun kondisi awal tidak menguntungkan dan jauh dari ekspektasinya, dia tetap yakin bisnis yang dijalankan akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Optimisme yang tinggi membawanya bekerja lebih keras. Alhasil, perlahan tapi pasti, pabrik miliknya mulai berkembang. Acim bukanlah orang pertama yang memiliki pabrik pengolahan tahu di daerah Ciputat dan sekitarnya. Kerasnya persaingan dan kualitas bahan makanan jadi yang diolah di pabrik dan dipasarkan di pasar tradisional membuat Acim tidak boleh menyerah. Alhasil,kini pabrik pengolahan tahu miliknya mampu memproduksi sedikitnya 6 kuintal tahu per hari untuk dipasarkan di rekanannya di pasar Ciputat dan sekitarnya. Lebih dari 1.000 tahu putih ukuran besar dan 790 tahu ukuran kecil yang biasanya dikonsumsi di rumah tangga dihasilkan dari pabrik kecil miliknya. Tentu saja, kuantitas ini harus dibayar cukup mahal.

Biaya produksi dalam sehari mencapai Rp5 juta. Biaya itu tidak hanya dipergunakan untuk membeli bahan dasar pengolahan tahu, biaya proses pengolahan,dan upah bagi para pekerjanya. Jika sehari saja biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp5 juta,maka selama kurun waktu satu bulan, dana sebesar Rp150 juta harus dikeluarkan untuk memproduksi tahu-tahu berkualitas dan bergizi tinggi. Keuntungan yang didapatnya pun terbilang sudah cukup besar baginya. Jika pada awalnya hanya meraup keuntungan Rp300.000 per hari, kini omzetnya jauh di atas itu. Sayangnya, dia enggan menyebutkan omzet yang didapatnya kini.

”Yang jelas bisa untuk menutupi biaya produksi dan bisa membayar cicilan utang ke bank,” katanya sambil tersenyum. Untuk mendistribusikan hasil pengolahannya, Acim juga memiliki sebuah mobil operasional berjenis pikap yang siap mengantarnya ke pasar tradisional setiap malam. Salah satu kebanggaannya dengan bisnis ini, Acim sudah berhasil mengantarkan anaknya menjalani proses pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung.

Setiap usaha menuju kesuksesan kerap menemui hambatan. Begitu pula yang terjadi pada bisnis industri pengolahan bahan makanan yang dirintis Acim.

Langkahnya menapaki dunia usaha tidak berjalan mulus. Insiden kebakaran yang melanda pabrik tahu miliknya adalah duka terdalam selama dia menjalankan bisnis ini. Amukan si jago merah pada 2005 silam membumihanguskan seluruh bangunan pabrik tahu beserta isinya. Beruntung, rumah tinggalnya yang persis berdampingan dengan pabrik itu tidak ikut habis terbakar. ”Semua ludes dan tidak bersisa. Yang tersisa hanya pakaian yang menempel di badan saja. Ini cobaan terberat selama saya menjalankan usaha ini,” kenang Acim. Kebakaran yang terjadi lima tahun silam bermula karena mampetnya minyak tanah dalam tungku sehingga membuat api di tungku uap membesar dan melahap seluruh barang di dalamnya.

Kerja keras Acim pun seolah habis tidak bersisa. Akibat insiden amukan si jago merah tersebut, Acim mengalami kerugian sekitar Rp100 juta,angka yang cukup besar baginya. Pascakebakaran,tentu saja semua harus dimulai dari awal lagi. Acim mulai mengumpulkan modal untuk melanjutkan usahanya. Acim pun menggadaikan mobil operasional miliknya untuk mendapatkan dana Rp35 juta. ”Waktu itu tidak berutang lagi karena dibantu oleh saudara-saudara saya yang menyumbangkan barang-barang berharga untuk modal saya.Dari saudara-saudara,saya dapat Rp30 juta,”papar Acim. Tidak mau menyerah dengan keadaan, Acim mulai merangkai kembali usahanya.Tragedi kebakaran tersebut justru semakin memperbesar usahanya.

Bangunan pabrik yang semula hanya 100 meter persegi kini diperlebar hingga menjadi 200 meter persegi.Bangunan pabrik miliknya terlihat lebih luas dan bisa dipergunakan untuk memaksimalkan produksi tahu.Selain itu,dia juga berhasil menebus kembali mobil operasional yang digadaikan untuk memulai usaha pascakebakaran. Bahkan, kini Acim sudah terlihat lebih maju beberapa langkah. Pada sepetak lahan di depan pabriknya, terparkir sebuah mobil keluarga. Meskipun dibeli dengan mencicil Rp4,5 juta per bulan, mobil itu seolah menjadi bukti keberhasilan kerja keras Acim